Minggu, 24 Februari 2013

PENDIDIKAN REMAJA SEBAYA PART 2


      Profil Orang Tua Yang diinginkan Remaja
Hubungan dengan orang tua pada remaja, seperti yang banyak diperoleh dari penelitian ini, menggambarkan pola sosialisasi nilai-nilai dari orang tua kepada anaknya. Beberapa yang panting bagi remaja adalah peran orang tua, sikap dan perilaku orang tua terhariap anak, tugas pengasuhan, komunikasi, dan waktu bersama (mulai dari yang terbanyak).
1. Peran Orang Tua
Beberapa peran ayah dan ibu yang disebutkan, antara lain: Ayah adalah tulang punggung pencari nafkah dan kepala keluarga, harus bertanggung jawab, dapat menjadi figur panutan bagi sebagai pribadi, terhariap istri, anak, keluarga, dan sosial masyarakat. Dari penelitian ini,
ditemukan bahwa kebanyakan remaja di desa yang dekat dengan kota menggambarkan ayah lebih positif (baik/terbaik, bertanggung jawab, kepala rumah tangga, pengertian dan memperhatikan). Konsep yang kurang baik lebih banyak muncul di desa yang jauh dari perkotaan, seperti bepergian, kurang perhatian, ingin menang sendiri, kampungan, kolot, kurang bertanggung jawab dan kurang fisiknya.

Peran ibu yang utama adalah ibu rumah tangga. Ibu lebih banyak dilihat sebagai orang yang menyayangi dan pengerban. Para ibu lebih menunjukkan kesediaannya dalam berkomunikasi, akur, akrab, bersahabat, dan
punya beberapa kesamaan dengan anaknya. Namun ibu juga yang paling tidak disukai kecerewetannya. Remaja juga sudah dapat melihat bahwa ibunya kurang bahkan tidak berpendidikan. Orang tua juga dipandang sebagai sumber yang dapat memuaskan materi yang khas untuk remaja.

2.       Sikap dan Perilaku Orang Tua terhadap Anak
Sikap positif yang diharapkan anak dari orang tuanya adalah kasih sayang, pengertian. Ibu adalah orang yang banyak bekerja keras, justru ayah diharapkan sudi membantu beberapa pekerjaan rumah. Beberapa dari mereka juga berharap ayahnya dapat bekeda. Sikap dan perilaku yang tidak diinginkan anak adalah marah, ngomel, mukul, terlalu mengatur, otoriter dan egois, pilih kasih, tidak adil, rewel, masa bodoh, pelit dan menceritakan keburukan kepada orang lain.

3.       Tugas Pengasuhan
Remaja melihat bahwa bimbingan orang tua masih sangat dibutuhkan, dalam bentuk nasihat, konsultasi, dan mendiskusikan masalah-masalah anaknya. Remaja juga berharap orang tuanya punya pemikiran yang mementingkan pendidikan anaknya.

4.       Komunikasi
Masalah-masalah yang ingin dikomunikasikan dengan orang tuanya, atau yang menjadi topik pertengkaran di rumah antara lain adalah masalah sekolah, di mana remaja takut orang tuanya tidak mengizinkan sekolah lagi, masalah ekonomi, dan masalah tugas sehari-hari di rumah.

5.       Waktu Bersama
Kebanyakan remaja berharap orang tuanya sering di rumah dan berkomunikasi, kecuali bila orang tuanya punya sikap yang buruk. Mereka umumnya cemas bila salah satu atau kedua orang tuanya belum pulang bekeda hingga larut malam. Mereka mengeluh bila orang tuanya sering bepergian dan jarang/tidak pernah di rumah.

Menurut Pikunas (1976), Sosialisasi adalah proses belajar untuk mengenali nilai-nilai dan ekspektansi kelompok, dan meningkatkan kemampuan untuk mengikutinya (confofm). Tingkatan anak atau remaja sampai pada standar teman sebaya (peer group) tergantung pada kegiatan sosial mereka. Orang tua dan teman sebaya mempengaruhi perubahan dari anak egosentris menjadi orang dewasa yang cakap sosial.

Dalam situasi sosial seorang anak harus berperan tertentu pada posisi tertentu. Keterampilan komunikasi dan berinteraksi adalah bagian penting dalam proses sosialisasi. Mau tidak mau, disadari atau tidak, orang tua berperan dan bertindak sebagai wakil masyarakat dan budaya.
Ini berarti mereka meneruskan etos-etos dan sifat-sifat budaya, dan sekaligus membangun tabu dan mengekang kecenderungan yang tidak sesuai dengan budaya.

Melalui kondisioning verbal dan teknik-teknik pengelolaan lainnya, mayoritas orang tua memperkuat kendaii terhariap impuls-impuls, tanggung jawab, self-direcvon, dan atribut positif lainnya yang akan membantu anak berhubungan secara efektif dengan orang lain. Orang tua yang terlalu permisif biasanya merusak kemampuan penyesuaian diri anak bila mereka terlalu sering mengizinkan anak melakukan kegiatan dengan caranya sendiri. Di kemudian hari, bila anak menghadapi frustrasi kehidupan yang tidak dapat dihindari, ia tidak akan siap untuk menghadapinya. Seperti halnya fungsi lain, perubahan dari egosentris ke arah kemampuan sosialisasi, tidak ada yang kontinu dan tidak ada yang tanpa rasa sakit. Bila tidak dipersiapkan akan terjadi langkah regresi, yang bisa terjadi pada anak, remaja ataupun orang dewasa.

-          Pentingnya Menerapkan Pendidikan Sejak Dini Terhadap Anak

Pendidikan perlu diterapkan secara dini yaitu pendidikan yang dilakukan dari keluarga. Pendidikan di lingkungan keluarga ini sebagai tempat pertama pertumbuhan dan perkembangan anak untuk masa-masa selanjutnya. Orang tua mempunyai tanggung jawab penuh atas anak-anaknya. Peran orang tua tidak hanya menyediakan materi dan saat-saat belajar tetapi juga pengawasan waktu belajar dan juga membimbing anak-anaknya untuk mengatasi kesulitan belajar.

Orang tua sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan anak. Kartono (1985;5) mengatakan bahwa :
“Orang tua harus dapat menciptakan situasi dan kondidsi baik fisik maupun psikis, baik secara sosial maupun non sosisal yang memadai agar tercapai prestasi belajar yang optimal. Hal ini karena keluarga mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan murid khususnya jika orang tua bersifat merangsang, mendorong dan membimbing terhadap aktifitas belajar anaknya, sehingga memungkinkan diri anak untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi”

Peran orang tua juga berkisar pada kegiatan pemeliharaan, pengasuhan, pembimbingan, dan pendidikan anak baik segi rohani maupun jasnrani. Peran yang lebih kongkrit lagi orang tua adalah sebagai pendorong yang memberi semangat, penasehat serta teman serta menjadi contoh anaknya selain sebagai orang yang mencintai, yang memberi kasih sayang dan tempat bertanya anaknya.

Bimbingan adalah merupakan bantuan atau tuntunan, yang mengandung pengertian bahwa pembimbing harus memberikan bantuan kepada yang dibimbing¬nya. Keadaan seperti ini terkenal dalam dunia pendidikan “Tut Wuri Handayani” yaitu bahwa dalam memberi bimbingan, arah diserahkan kepada yang dibimbing. Bimbingan hendaknya merupakan bantuan yang dapat menyadarkan seorang itu akan pribadinya sendiri (bakatnya, minatnya, kemampuannya dan sebagainya) sehingga dengan demikian ia sanggup memecahkan sendiri kesukaran-kesukaran yang dihadapainya.

Bimbingan orang tua dapat membawa pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik tcrhadap aktifitas belajar anak, melalui bimbingan orang tua dapat mengarahkan dan mengetahui segala kesulitan-kesulitan yang dihadapi putra-putrinya. Menurut Druxes (1983-105) mengatakan bahwa “Prestasi belajar adalah hasil belajar siswa yang dihubungkan dengan tujuan belajarnya”, maka anak sebagai siswa yang dapat dikatakan berhasil apabila tujuan belajarnya dapat dicapai.